Mencari Presiden yang Agak Mendingan
Tak Berkategori June 25th, 2009
Apa yang bisa kita pelajari setelah beberapa minggu ini mengikuti kampanye para Calon Presiden dan Calon Wakil Presiden? Satu diantaranya adalah, bahwa tidak ada satu pun yang menunjukkan kejujuran dan mengkampanyekan pemerintahan yang jujur.
“Lho Tom, kan semuanya mengkampanyekan pemberantasan korupsi? Berarti semua Capres itu ingin membentuk pemerintahan yang jujur dong?” Temanku bilang kemarin.
Pertanyaannya, apakan dengan memberantas korupsi akan timbul pemerintahan yang jujur? Tidak, sama sekali tidak. Kejujuran jauh lebih kompleks daripada pemberantasan korupsi. Tapi kejujuran jauh lebih efektif untuk membuat pemerintahan yang bebas korupsi daripada membuat UU Tipikor yang gak selesai-selesai. Syaratnya saja yang agak berat, yaitu JUJUR…
Jujur artinya berkata apa adanya, tanpa ada yang dimanipulasi atau ditutup-tutupi. Pemerintahan yang jujur adalah pemerintahan yang terbuka kepada rakyatnya, yang memberikan akses seluas-luasnya atas informasi yang rakyat berhak mengetahuinya. Baik dari segi proses politik, manajemen keuangan, hubungan luar negeri dan reasoning atas semua kebijakan yang diambilnya.
Adalah hal yang sangat lucu, di dalam tiap kampanye Capres/Cawapres, para kandidat selalu menuding lawannya dengan kalimat. “Jangan membodohi rakyat, karena rakyat itu tidak bodoh…!” Dengan kalimat “Jangan membodohi rakyat” mereka sepertinya marah bila lawannya berkampanye dengan omongan-omongan manis (tentang diri mereka sendiri) atau dengan tudingan-tudingan miring (tentang lawannya) yang yang sebenarnya tidak sesuai dengan fakta yang ada.
Tapi di luar sana, lihatlah… Semua billboard, spanduk, poster dan pamflet para Capres dan cawapres, semuanya tidak ada yang mencerdaskan rakyat. Semua hanya berisi foto yang semua orang sudah kenal dan sebaris tulisan : “Pro Rakyat” atau “Lanjutkan” atau “Lebih Cepat lebih Baik” yang tidak kita pahami apa arti dan aplikasinya. Lalu lihatlah pula “debat” yang dilakukan para Capres/Cawapres di televisi. Apakah mereka tahu arti kata “Debat”? Kalau mereka mereka tidak mau berdebat, maka seharusnya acara tersebut diganti namanya menjadi “Dialog” Capres/Cawapres… Bukankah ini yang namanya membodohi rakyat?
Dari debat itu saja kita dapat melihat bahwa sesungguhnya kita masih jauh dari menemukan seorang pemimpin bangsa yang bisa membawa kita menjadi sebuah bangsa yang besar, kuat, sejahtera dan dihormati dunia dalam waktu dekat. Kita masih harus memilih pemimpin yang agak mendingan (bukan yang lebih baik, apalagi terbaik) dari yang lain. Karena ketiga capres/cawapres masih berpikir di awang-awang. Semua program yang disampaikan masih pada wacana dan normatif.
Betul kita semua ingin harga sembako murah, tapi bagaiman cara membuat harga beras terjangkau tanpa mengurangi anggaran untuk pembangunan infrastruktur? Benar kita suka dengan pendidikan gratis sehingga semua anak bisa sekolah, tapi setelah mereka lulus mau kerja dimana? Lebih banyak pengangguran sarjana daripada pengangguran tanpa pendidikan bukanlah prestasi yang bagus. Betul juga kita ingin kemajuan yang pesat dan cepat dalam bidang ekonomi, tapi konsepnya bagaimana?
Cukup menyaksikan dua kali debat di televisi sudah membuat kita hilang antusiasme untuk menyaksikan debat-debat selanjutnya. Biarlah, KPU dan Capres/cawapres sibuk dengan dunianya sendiri dan suara rakyat tetap tidak terdengar…
Kita sebenarnya ingin mendengar apa sebenarnya yang menjadi problema kita sebagai bangsa, sehingga kita masih tetap terjebak di dalam krisis multi dimensi saat ini? lalu apa pula keunggulan yang bisa kita gunakan untuk keluar dari krisis? Dan yang paling penting, apa rencara strategis dan langkah kongkritnya?
Masalah Ambalat yang terancam, korupsi yang merajalela, biaya hidup dan inflasi yang tinggi, pengangguran yang membubung, hutang negara yang mencapai ribuan trilyun, sistem transportasi yang telah menjadi agen pengurangan penduduk, tingkat pendidikan rakyat yang sangat rendah, biaya perawatan kesehatan yang sangat mahal, pelayanan masyarakat yang menyedihkan, degradasi moral generasi muda, penyebaran dan penyalahgunaan narkoba, rendahnya perlindungan terhadap konsumen, pembajakan hak atas kekayaan intelektual…. adalah sebagian dari segudang masalah kita yang perlu dicarikan jalan keluar oleh para capres/cawapres kita.
Memang keinginan sebagian kalangan agar pemilu cukup satu putaran itu tidak demokratis (terutama bagi yang kecil kemungkinan menang). Tapi menurutku, siapapun yang menang, kita tidak akan banyak berubah. Jadi mengapa buang-buang uang triliunan rupiah untuk pesta yang terlalu panjang? Tapi kita lihat saja nanti… Karena yang menentukan satu atau dua putaran adalah suara rakyat sendiri.
Suara rakyat itu suara Tuhan. Kalau suara Tuhan saja tidak didengar oleh para calon pemimpin kita, apalagi suara kita….?
Pesanku hanyalah, jangan memilih Presiden hanya menggunakan perasaan Anda, tapi gunakanlah juga nalar dan logika. Carilah informasi tentang para Capres/cawapres. Perhatikan juga siapa orang-orang disekitar mereka. Catat janji-janji kampanye mereka. Dan pilihlah salah satu yang terbaik untuk semua rakyat. Bukan yang hanya baik untuk kepentingan Anda.
Dan ingatlah, sesungguhnya siapapun presidennya, dia tetap seorang manusia. Dan sebagai bangsa yang beragama, mari kita berdoa…. “Semoga Tuhan memberi petunjuk dan kemudahan bagi Presiden terpilih kita untuk membawa bangsa kita keluar dari segala masalah menuju kesejahteraan dan kemuliaan….”
About

